Angelika Putri Fadilla, mahasiswa Program Studi Fisika Institut Teknologi Kalimantan (ITK), ditetapkan sebagai Mahasiswa Berprestasi ITK Tahun 2026 pada 8 Oktober 2026. Sebelumnya, ia terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi tingkat fakultas pada 15 April 2026. Bertempat di Ruang Auditorium Gedung Lab.Terpadu ITK, penghargaan diberikan langsung oleh Rektor ITK, Prof. Dr. rer. nat. Agus Rubiyanto, M.Eng.Sc dalam rangkaian acara Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-12 ITK. Turut memberikan ucapan selamat adalah Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono dan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas'ud.
Deretan capaian
Penghargaan tersebut diberikan atas prestasi pada capaian akademik dan nonakademik. Misalnya pada ajang esai dan karya tulis, Angelika menjadi Gold Medalist sekaligus peraih Best Idea Award kategori Energy and Environment Essay di National Excellence Competition (NEC) 2026. Ia juga juara 1 National Scientific Writing Competition EUPHORBIO 11 dan juara 1 Geophysics Essay Competition pada Workshop Geofisika 2025 di Universitas Mulawarman. Di tingkat internasional, ia menjadi finalis kategori esai 2nd International Student Summit 2026. Ia juga memiliki publikasi di jurnal terakreditasi SINTA 4, dengan IPK saat ini 3,21.
Angelika adalah penerima Beasiswa Pertamina Sobat Bumi 2025 dari Pertamina Foundation. Kesibukan lain saat ini adalah menjabat sebagai Vice President Society of Petroleum Engineers (SPE) ITK Student Chapter, menjadi Expert Staff divisi Research and Development Society of Renewable Energy (SRE) ITK Student Chapter, dan menjadi Teaching Assistant mata kuliah Mathematical Physics II.
Berawal dari buku sains pemberian ayah
Sejak kecil, Angelika dekat dengan buku sains. Ayahnya sering membelikan buku tentang cara alam semesta bekerja lewat fisika dan kimia. Saat itu ia belum memahami semuanya, tetapi rasa penasarannya terus terbawa. Salah satu buku yang paling membekas adalah A Brief History of Time karya Stephen Hawking. Dari buku itu ia melihat bahwa “fisika bukan hanya sekadar kumpulan rumus, tetapi juga cara untuk memahami sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri.”
Fisika terkadang masih dipandang sebelah mata karena dianggap ilmu dasar. Kalimat dari keluarga yang paling ia ingat menjawab anggapan itu: “Bukan karena kamu jurusan Fisika lalu kamu merasa dirimu kecil. Justru kamu harus membuktikan kepada orang lain bahwa bidang yang kamu pilih tidak bisa dipandang sebelah mata.”
Semester pertama yang paling berat
Masa terberat Angelika justru datang di semester pertama. Saat libur semester, ia melihat IP-nya hanya 3,08. Bagi sebagian orang angka itu mungkin cukup baik, tetapi baginya belum sebanding dengan usaha yang sudah ia keluarkan. Hampir bersamaan, ia kehilangan ayahnya. Ia merasa belum sempat menunjukkan banyak hal kepada beliau, bahkan belum sempat membuat beliau melihatnya sampai wisuda.
Ia sempat merasa gagal dan menyimpan banyak penyesalan, seolah berpacu dengan waktu. Perlahan, ia mengubah rasa kehilangan itu menjadi dorongan. “Saya memang tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, tetapi saya masih bisa menentukan bagaimana saya menjalani proses setelahnya,” tulisnya.
Pengalaman itu membuatnya lebih menghargai waktu dan tidak menunda kesempatan untuk berkembang. Ia ingin “setiap pencapaian yang saya raih nantinya juga menjadi bentuk penghargaan atas dukungan dan perjuangan orang tua saya.”
Yang membuatnya bertahan
Semangat tidak selalu ada. Angelika belajar bahwa “bertahan tidak selalu berarti harus terus merasa semangat setiap saat, tetapi tetap memilih untuk melanjutkan meskipun langkahnya sedang pelan.” Salah satu kebiasaan yang membantunya adalah journaling. Ia mencatat kegiatan, target, dan hal yang perlu dievaluasi, kadang juga hal kecil yang ia syukuri hari itu. Catatan ini membantunya menentukan prioritas ketika kuliah, organisasi, dan lomba menumpuk.
Kegagalan pun ia hadapi dengan dukungan keluarga. Saat nilainya turun, abangnya mengingatkan, “Kalau kamu gagal, bukan berarti kamu harus berhenti. Kamu harus belajar dari kegagalanmu.” Sang abang juga menganjurkannya banyak membaca untuk melihat bagaimana orang lain menghadapi kegagalan.
Dalam belajar, Angelika mengutamakan pemahaman konsep sebelum rumus. Untuk mata kuliah yang menantang seperti fisika kuantum dan termodinamika, ia lebih dulu membayangkan apa yang sebenarnya terjadi secara fisik. Ia memakai kecerdasan buatan sebagai teman diskusi untuk penjelasan sederhana, analogi, atau visualisasi, lalu kembali ke buku, catatan kuliah, contoh soal, dan diskusi dengan teman atau dosen.
Semua itu ada harganya. Waktu istirahat dan momen bersama teman ia tukar dengan belajar, menyiapkan lomba, dan menjalankan tanggung jawab organisasi. Ia menulis bahwa “untuk mencapai sesuatu saya harus siap menunda sebagian kesenangan hari ini demi tujuan yang lebih besar ke depannya.”
Pesan untuk adik tingkat
Kepada adik tingkat, Angelika berpesan agar tidak takut merasa tertinggal, gagal, atau belum sehebat orang lain, karena setiap orang punya prosesnya masing-masing. Satu kalimat yang ia pegang: “Kamu tidak harus langsung hebat untuk memulai, tapi kamu harus berani memulai untuk bisa menjadi hebat.”
Cara pandangnya sendiri berubah sejak kuliah. Kini ia berpegang pada “Kalau orang lain bisa, saya harus jauh lebih bisa dibandingkan orang lain,” yang ia maksudkan bukan untuk mengalahkan orang lain, melainkan untuk tidak cepat puas dan terus melampaui batas diri sendiri.
Ke depan, Angelika ingin lebih aktif menerbitkan karya ilmiah di bidang fisika dan geofisika serta mengikuti magang atau kerja praktik di instansi yang relevan. Cita-citanya menjadi dosen, dengan rencana melanjutkan ke jenjang S2 di bidang geofisika. Bagi Angelika, penghargaan ini “bukan akhir dari pencapaian, tetapi menjadi titik awal untuk menetapkan target yang lebih tinggi.”