Dosen Fisika ITK Dr. Musyarofah, M.Si. Raih Penghargaan Dosen dengan Capaian Publikasi Ilmiah Terbaik 2025–2026

Juara - 19 Oktober 2026 - 12:00 AM

Dr. Musyarofah, M.Si., dosen Program Studi Fisika Institut Teknologi Kalimantan (ITK), menerima penghargaan sebagai Dosen dengan Capaian Publikasi Ilmiah Terbaik ITK 2025–2026. Penghargaan ini diberikan atas capaian publikasi ilmiahnya pada periode tersebut. Turut memberikan selamat dalam pemberian penghargaan pada acara Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-12 ITK adalah (dari kiri ke kanan pada foto) Gubernur Provinsi Kalimantan Timur Rudy Mas'ud, bu Musyarofah sebagai penerima penghargaan, pak Alamsyah sebagai penerima penghargaan, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), bu Yunita Triana sebagai penerima penghargaan, Rektor ITK Agus Rubiyanto.

Berawal dari rasa ingin tahu

Ketertarikan bu Musyarofah pada fisika tumbuh dari rasa ingin tahu tentang bagaimana alam semesta bekerja dan bagaimana berbagai fenomena di sekitar kita dapat dijelaskan secara ilmiah. Baginya, “fisika bukan sekadar kumpulan rumus dan perhitungan, tetapi cara untuk memahami suatu fenomena melalui pengamatan, penalaran, dan pembuktian.”

Ketertarikan itu berkembang menjadi kecintaan pada dunia akademik karena ilmu pengetahuan selalu membuka ruang untuk belajar, bertanya, dan menemukan hal baru. Menjadi dosen memberinya kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan lewat penelitian, sekaligus berbagi ilmu dan mendampingi mahasiswa membangun cara berpikir yang kritis dan sistematis.

Menyeimbangkan karier dan keluarga

Tantangan terberat dalam kariernya adalah menyeimbangkan peran sebagai dosen dan peneliti dengan tanggung jawab sebagai istri dan ibu. Mengajar, meneliti, dan menulis publikasi menuntut waktu, sementara keluarga juga membutuhkan perhatian dan kehadirannya. Ada kalanya semua tanggung jawab itu datang bersamaan, padahal waktu dan energinya terbatas.

Melalui situasi seperti itu dia sadari bahwa tidak semua hal dapat diselesaikan sekaligus dan tidak semua hal harus berjalan sempurna. Seperti yang dia sampaikan, kita perlu belajar menentukan prioritas, mengatur waktu, dan menyesuaikan rencana. Ia juga menyimpulkan bahwa “menjadi perempuan yang berkarier bukan berarti harus memilih antara keluarga dan cita-cita.” Menurutnya, keberhasilan tidak selalu berarti mampu melakukan semuanya sendiri, tetapi juga membangun dukungan dan menjalani setiap peran sebaik-baiknya.

Bangkit dari penolakan

Musyarofah pernah mengalami naskah yang ditolak dari suatu jurnal dan proposal penelitian yang tidak lolos pendanaan. Ia mengaku sedih, apalagi setelah mencurahkan banyak waktu, tenaga, pikiran, dan harapan,. Bahkan sempat bertanya apakah usahanya sudah cukup baik.

Seiring waktu, ia melihat penolakan sebagai bagian dari perjalanan seorang peneliti. “Naskah yang ditolak bukan berarti penelitian kita tidak bernilai, begitu juga proposal yang tidak lolos bukan berarti gagasan kita tidak layak dikembangkan,” tulisnya. Ia memberi ruang bagi dirinya untuk kecewa, lalu mengevaluasi masukan yang diterima, memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, dan mencari kesempatan lain dengan persiapan yang lebih baik. Baginya, “konsistensi bukan berarti tidak pernah merasa ingin menyerah, melainkan memilih untuk kembali melangkah setelah melewati kekecewaan.”

Konsistensi dari langkah kecil

Rutinitas Musyarofah tidak selalu sama setiap hari karena perannya banyak. Karena itu, ia menjaga konsistensi dengan menetapkan prioritas dan menyelesaikan pekerjaan secara bertahap. Dalam penelitian, ia tidak menunggu waktu yang benar-benar luang atau inspirasi datang. Ia memanfaatkan waktu yang ada untuk membaca artikel ilmiah, mencatat ide penelitian, dan memperbaiki naskah. “Langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan membantu sebuah pekerjaan berkembang hingga selesai,” katanya.

Prinsip yang sama ia pakai ketika semangat sedang turun. “Terkadang, konsistensi dan komitmen justru lebih penting daripada motivasi,” tulisnya. Ia mengingat kembali alasannya memilih jalan ini, yaitu keinginan untuk terus belajar dan memberi manfaat lewat karyanya, lalu menjalani prosesnya satu per satu.

Membimbing dengan dialog

Dalam membimbing mahasiswa, Musyarofah menerapkan pendekatan yang terbuka dan dialogis. Ia ingin mahasiswa nyaman berdiskusi, bertanya, bahkan mengakui kesulitan, tetapi juga mendorong mereka mandiri dan bertanggung jawab atas pekerjaannya. “Saya tidak ingin mahasiswa hanya mengikuti arahan saya, tetapi juga memahami alasan di balik setiap langkah yang mereka ambil,” tulisnya. Baginya, keberhasilan membimbing bukan hanya ketika mahasiswa menyelesaikan studi, tetapi juga ketika mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan mandiri.

Pesan untuk dosen muda

Kepada dosen muda, Musyarofah berpesan agar “jangan takut untuk memulai, jangan mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan, dan jangan merasa harus mencapai semuanya sekaligus.” Ia menyarankan dosen muda membangun kolaborasi, melibatkan mahasiswa dalam penelitian, dan mengembangkan riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Untuk pendanaan, ia menilai dosen perlu proaktif mencari sumber eksternal, baik lewat hibah kompetitif nasional maupun kerja sama dengan mitra. Ia juga mengingatkan agar dosen menjaga keseimbangan hidup, termasuk kesehatan, keluarga, dan kebahagiaan diri sendiri. “Milikilah cita-cita yang tinggi, tetapi nikmati juga proses untuk mencapainya,” tulisnya.

Setelah penghargaan ini, Musyarofah tetap memprioritaskan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Ia ingin terus menghasilkan penelitian dan publikasi yang bermanfaat serta melibatkan mahasiswa dalam kegiatan akademik. Cita-citanya adalah menjadi guru besar, yang baginya “bukan semata-mata tentang pencapaian gelar atau jabatan, melainkan menjadi target yang mendorong saya untuk terus bertumbuh.” Soal penghargaan, ia menegaskan bahwa “penghargaan adalah bonus sekaligus penyemangat untuk terus berkarya, bukan tujuan utama.”